Tuesday, October 23, 2012

Memory Di Balik Hujan

A wan gelap dan butiran air hujan yang jatuh dari langit mewarnai kisah malam ini, udara dingin menusuk tulang pun semakin menambah sepinya malam. Terlihat di sekeliling daun-daun dan ranting yang basah terkena air hujan dan aspal yang tergenang air membuat jalanan menjadi licin, tak jarang pula terlihat beberapa orang berlalu lalang menggunakan payung dan jas hujan di malam ini. Inilah musim hujan yang telat datang di bumi Indonesia, musim yang membuat orang-orang menjadi males keluar rumah dan banyak yang memilih berdiam di rumah karena hujan suka turun mendadak tanpa memberitahu terlebih dahulu.

Begitupun dengan Saka, dia pun males keluar rumah ketika langit sudah terlihat mendung atau ketika matahari mulai condong ke barat karena itulah saat dimana hujan akan turun. Menikmati hujan di rumah menjadi kebiasaan dia akhir-akhir ini karena di setiap rintik hujan yang turun membuat dia mengingat masa lalu bersama Sinta, mantan kekasihnya yang membuat dia belum bisa move on sampai sekarang. Entah apa yang spesial dari Sinta sehingga membuat Saka susah untuk lupain dia.


”Kamu kenapa sih nak, mama selalu liat kamu bengong gak jelas terus deh?” sekilas pertanyaan ibunya membuyarkan lamunannya. “Emm.. ohh gak apa-apa mam, Saka lagi seneng aja liat hujan sore ini” sahutnya sekenanya. Lamunannya akan sosok Sinta yang selalu menghantui pikirannya berbulan-bulan hingga dia belum berminat mencari pengganti sosok Sinta yang begitu melekat di pikirannya walaupun dia tau kalo Sinta sekarang sudah memiliki kekasih baru tapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk menuggu Sinta sampai dia kembali ke pelukan Saka lagi.

*************

“Ini udah bulan keberapa yah gue jomblo?, rasanya udah lama banget deh”, ucap Saka dalam hati. Setelah putusnya hubungannya dengan Sinta 5 bulan lalu sampai saat ini dia belum juga mempunyai pengganti Sinta walaupun Sinta sudah beberapa kali gonta ganti pasangan pasca berakhirnya hubungannya dengan Saka.

            Malam minggu buat seorang jomblowan seperti Saka menjadi satnite yang bikin iri, ketika para teman-temannya menghabiskan waktu berdua dengan pacar mereka bahkan kalau pun nongkrong bareng temen-temen lainnya mereka juga pasti bawa pasangan, beda dengan Saka yang selalu datang seorang diri.

“Lo gak ada niat cari pengganti Sinta brad?” Tanya Doni sahabat setianya Saka, “belum kepikiran gue Don buat cari yang baru, gue juga bingung kenapa gue mikirin Sinta mulu yah padahal dia mungkin gak mikirin gue”, “Yaudahlah coba buka hati cari yang baru, gak kesiksa apa lo kaya begini terus?”, “Hemmm, lumayan sih yaahh semoga aja gue bisa Don”.

***********

Hujan kembali mengguyur Jakarta malam itu, gak terlalu besar hanya gerimis kecil tapi awet yang terpaksa membuat sebagian pengendara motor berteduh agar tidak kehujanan. Saka dan Doni masih betah lama-lama di café langganannya, sebuah café yang cozy terletak di selatan Jakarta dan ownernya masih temen mereka berdua.

“Jadi ceritanya lo masih ngarepin Sinta nih Sak?” sahut Fika sang owner café tersebut, “Iya Fik, hemm.. gue juga bingung kenapa gue masih nunggu dia, bodoh banget gue kayanya” keluh Saka, “Itu berarti emang lo sayang banget sama dia bro, yah semoga aja dia juga masih ada rasa ke lo sama kaya lo ke dia”, “Iya semoga aja begitu”.

***********

Segelas Cappucinno hangat masih menemani Saka di café itu entah sudah berapa jam dia duduk di situ. Sebuah café berkonsep teenage dengan design interior yang minimalis namun berartistik dan pelayanan yang ramah juga harga murah yang membuat café tersebut menjadi idola para remaja Jakarta untuk sekedar nongkrong bareng temen – temen atau pacaran di sana.

Masih di tempat yang sama seperti beberapa jam yang lalu, di sebuah sofa merah di sisi pojok café dengan jendela besar yang langsung menghadap jalanan kemang yang masih gerimis, di situlah Saka masih betah duduk dan larut dengan lamunannya.

“Ekhhm .. Sak, gue cabut duluan yah soalnya gue masih ada urusan lagi nih”, “Owhhh, emm oke deh Don, hati-hati di jalan yah”. Lalu Doni pun pergi meninggalkan Saka dan mengendarai mobilnya menembus gerimisnya jalan Jakarta.

            Dalam gerimis tersebut Saka mulai larut lagi dari dalam lamunannya tentang Sinta dan pikirannya mulai flashback ke masa lalu, masa dimana dia bertemu Sinta di sekolah. Dia ingat betul awal mula bertemu Sinta di lorong sekolah lalu ada insiden kecil antar keduanya tetapi dari situlah benih-benih cinta itu muncul antar keduanya.

“Nih cappucinno lo Sak” kembali lamunannya buyar ketika Fika menyodorkan pesanannya, “ahh lo buyarin lamunan gue aja deh!” protes Saka, “yaah lo juga sik ngelamun mulu, udah deh nih ya gue saranin, dari pada lo begini mulu kan nyiksa diri lo juga, mending coba lo cari pengganti Sinta deh, masih banyak cewek-cewek cantik dan baik hati di luar sana” Fika mencoba mencari solusi untuknya.

 “Iya gue paham, gue juga mau coba membuka hati tapi gimana yah gue jadi gak ada hasrat buat pacaran Fik, gue juga bingung kenapa” keluhnya, “Buset, jangan-jangan lo sekarang  jadi homo lagi?” canda Fika, “Buseett!!! Gak segitunya juga kali, gue masih normal woy cuma butuh waktu aja buat buka hati”, “Mau sampe kapan? Sampe lo jadi jomblo abadi? Pikirin lagi deh kata-kata gue daripada lo kaya begini mulu kaya ayam belom makan”.

“Semoga aja secepetnya deh Fik”.

***********

Jam menunjukan pukul 23.00, tetapi pengunjung café masih tetap ramai bahkan lebih ramai dari tadi pertama Saka dan Doni datang. Kehidupan malam Jakarta di kala weekend memang selalu hidup bahkan sampai pagi menjelang dan ternyata sudah hampir 7 jam Saka duduk di situ dan sibuk dengan lamunannya yang menjadi pekerjaan selingan dia beberapa bulan ini.

Tampak dari jendela café hujan sudah berhenti dan jalanan mulai licin tergenang air, lantunan music folks dan indie pop yang selang – seling di putar masih berkumandang keras di dalam café tersebut membuat suasana cozy di safe itu menjadi semakin cozy dan membuat para konsumen enggan buat pergi dari café itu.

“Fik gue cabut yah, udah malem nih” seru Saka ke Fika, “Yakin lo mau cabut? Tumben bener jam segini udah cabut?”, “Iya, mendadak lemes badan gue, mau istirahat dulu nih”.
“Yaudah hati-hati di jalan, itu cappucinno gratis deh buat lo sebagai penghibur dari gue dan inget omongan gue tadi, lo harus buka diri dan coba mencari pengganti Sinta biar lo ga kaya begini terus yah!”.
 “Wahh serius nih? Tau aja gue lagi bokek hehehe, thanks banget yah traktirannya. Iya siap gue bakal berusaha kok!”, lalu Saka pergi  keluar café dan menuju parkiran.
************
Di perjalanan menuju parkiran yang tergenang air jalannya paska hujan tadi membuat Saka harus hati – hati melangkah. Tiba di pojokan parkiran café Saka melihat seseorang sedang berdiri seperti sedang menunggu sesuatu.

Sosok  yang sangat dia sangat kenal, sosok cantik dan manis dengan gaya simple tapi menarik dan rambut panjang sebahu yang menjadi lamunannya selama ini. Yap, itu adalah Sinta!!. Sinta pun melihat kehadiran Saka di hadapannya, senyum manisnya melayang tertuju ke arah Saka. 

Berkecamuk perasaan di hatinya ketika melihat Sinta di parkiran dan melemparkan senyum kecil kepadanya, timbul hasrat menggebu dalam hatinya untuk menyapa Sinta. Tapi, perasaan itu mendadak menjadi hujan lokal di hati Saka, ketika dia melihat ada sesosok lain yang tiba – tiba datang disana. Sesosok pria yang dia tidak kenal langsung merangkul pinggang Sinta dan mengajaknya pergi meninggalkan Saka yang mendadak lemas dan gak bergairah kembali.

Sinta, gadis cantik impian Saka pergi begitu saja meninggalkan sejuta perasaan berkecamuk di hatijuga pikirannya dan menambah derasnya hujan di hati Saka.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...